Senin, 28 September 2020

Pentingnya Mental Health Bagi Gen Z

 

Ada istilah yang datang dari Barat sana. Bunyinya, “Live while we’re young!” atau dapat diartikan “nikmatilah hidup selagi kamu muda!” dalam Bahasa Indonesia. Merujuk pada istilah itu, berarti anak-anak muda diasumsikan sebagai kelompok manusia yang bisa banyak bersantai dan bersenang-senang  ketimbang para orang dewasa. Mungkin, bisa juga berangkat dari stigma kalau semakin tua, masalah manusia semakin banyak. Maka itu, ketika masih muda, atau dengan kata lain ketika masalah hidup masih sedikit, hidup harus dinikmati sebanyak-banyaknya. Entah istilah itu yang salah atau zaman sudah berubah, rupanya kondisi psikologis dan kesehatan mental anak-anak muda tidak sebaik anggapan banyak orang.

Menurut penelitian American Psychological Association (APA) tahun 2018 berjudul “Stress in America: Generation Z”, anak muda usia 15 sampai 21 tahun adalah kelompok manusia dengan kondisi kesehatan mental terburuk dibandingkan dengan generasi-generasi lainnya. Mereka adalah generasi Z, atau yang diartikan Taylor & Keeter (2010) sebagai orang-orang yang lahir pada tahun 1993 sampai tahun 2005. Adapun dari lima kelompok generasi lainnya yaitu silent generation, baby boomers, generation X, dan millennials, generasi Z merupakan golongan termuda.

Penelitian yang dilakukan APA tersebut melibatkan wawancara dengan 3500 terwawancara berumur 18 tahun ke atas, dan 300 wawancara dengan terwawancara usia 15 sampai 17 tahun. Menurut penelitian APA tersebut, diperoleh hasil bahwa sebanyak 91 persen generasi Z mempunyai gejala-gejala emosional maupun fisik yang berkaitan dengan stres, seperti depresi dan gangguan kecemasan. Stres adalah faktor terbesar penyebab buruknya kesehatan mental generasi Z. Peningkatan angka bunuh diri, peningkatan laporan kasus kekerasan dan pelecehan seksual, hingga pemanasan global dan perubahan iklim adalah beberapa faktor pemicu stres generasi Z

Pengetahuan dan kekhawatiran

Ditambah lagi, dengan banyaknya waktu yang dihabiskan untuk mengakses internet. Lama-kelamaan, pengetahuan mereka menjelma menjadi sebuah bentuk kekhawatiran yang menjadi tekanan untuk diri mereka sendiri.

Keakraban generasi Z dengan teknologi bukan semata-mata implikasi dari kemajuan zaman, tetapi juga mempengaruhi aspek psikologis dan behavioralnya. Menurut Toronto (2009), terdapat kecenderungan generasi Z memanfaatkan tekonologi untuk menghindari perjuangan di kehidupan offline mereka dan untuk menemukan kenyamanan (berbaur) dengan melarikan diri dan berfantasi untuk mengisi waktu maupun kekosongan emosional. Ternyata, generasi ini memanfaatkan dunia virtual sebagai tempat “pelarian” dari kehidupan nyata. Sayangnya, internet bisa membuat  kondisi kesehatan mental generasi Z menjadi lebih buruk.

Dampak medsos

Komunikasi yang semula terbatas jarak, kini bisa dilakukan dengan mudah melalui medsos dan beragam fiturnya. Tak ada lagi halangan jarak dan waktu dalam berkomunikasi berkat adanya medsos. Tapi, ternyata medsos bukan hanya membawa kemudahan bagi generasi Z. Hasil riset APA menunjukkan bahwa media sosial memang memainkan peran yang amat besar dalam kehidupan generasi Z, tapi bukan hanya peran yang berdampak positif. Sebanyak 55 persen generasi Z merasakan medsos memberikan mereka dorongan yang positif bagi diri mereka. Di sisi lain, 45 persen generasi Z mengaku medsos membuat mereka merasa dihakimi dan sebagian lain merasa buruk tentang dirinya sendiri akibat medsos.

Kondisi kesehatan mental generasi Z sangat perlu untuk menjadi perhatian banyak pihak. Selain kajian-kajian ilmiah mengenai penyebab kondisi psikologis ini, berbagai pihak juga perlu terus mengembangkan sosialisasi mengenai pentingnya kesadaran kesehatan mental. Generasi Z yang dekat dengan teknologi hingga mempunyai akses informasi yang luas perlu bersikap pro-aktif dalam memahami kondisi kesehatan mentalnya sendiri. Selain memperbanyak bacaan, generasi Z juga perlu memanfaatkan akses informasi untuk mencari bantuan klinis bila memang dibutuhkan.

Solusi yang dapat dilakukan oleh Gen Z diantaranya dengan mengikuti komunitas pendukung dan menemukan teman berbagi masalah-masalah yang tengah dihadapi. Generasi muda yang kelak akan membangun bangsa ini perlu untuk menjaga dirinya sendiri, baik secara fisik maupun psikis.